5 Rumah Perjuangan PKS Pertama: Rumah Tangga - bagian 2
Memahami rumah tangga sebagai madrasah pertama, berarti mengajak orang tua untuk memahami bahwa ia memiliki tugas:
1. Sebagai pendidik utama sebelum anak sekolah di pendidikan formal.
2. Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembang anak secara fisik, mental dan spiritual.
3. Menanamkan nilai sejak dini melalui teladan nyata, bukan hanya nasehat verbal
4. Memperkuat interaksi dan komunikasi, sehingga anak merasa aman untuk tumbuh, belajar dan berkembang bersama orang tua.
Unsur - unsur Keluarga Rumah dalam Membentuk Generasi Unggul
Rumah tangga dapat menjadi titik awal terbentuknya generasi unggul yang berperan aktif dan berkontribusi dalam membangun peradaban, manakala ia selalu diusahakan untuk memiliki unsur:
1. Baiti Jannati : Rumahku Surgaku
Rumah menjadi 'surga', dimana penghuninya merasakan ketenangan, kedamaian, kebahagiaan dan keamanan.
Rumah menjadi tempat dimana iman ditanamkan, ibadah dilaksanakan, kasih sayang dipupuk, nilai-nilai Islam diajarkan dan nilai-nilai kemanusiaan ditegakkan.
Rumah tangga yang baiti jannati, maka setiap anggota akan merasa nyaman, aman, betah, dihargai dan termotivasi untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik.
Mewujudkan baiti jannati memerlukan sejumlah elemen pendukung, antara lain: kasih sayang yang tulus, komunikasi yang efektif, manajemen konflik yang bijak dan lingkungan spiritual yang kuat.
2. Kasih Sayang yang Tulus
Kasih sayang merupakan fondasi utama dari rumah tangga yang sehat dan harmonis.
Konsep mawaddah wa rahmah (QS Ar Rum:21). Mawaddah: cinta yang penuh kehangatan, bersemi karena ketertarikan dan kedekatan. Rahmah: kasih sayang yang tulus, ikhlas, tanpa syarat dan tidak terbatas pada keadaan tertentu.
Kasih sayang yang muncul bukan sekedar karena balas jasa, atau memperhitungkan berapa banyak pengorbanan lalu menuntut imbalan atas kebaikan yang diberikan.
Kasih sayang yang muncul karena dorongan cinta, hati yang lapang dan tanggung jawab yang ikhlas, sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.
3. Komunikasi Efektif
Kebahagiaan keluarga dibangun di atas komunikasi yang jujur, sehat, terbuka dan penuh penghargaan. Komunikasi yang seperti ini memungkinkan setiap anggota keluarga bisa mengekspresikan perasaan dan pikirannya tanpa takut dihakimi.
Mengatasi masalah bersama dan merencanakan masa depan dengan visi yang selaras melalui musyawarah - yang diwarnai rasa saling percaya dan penghormatan antar anggota keluarga, akan mampu menyelesaikan konflik tanpa menimbulkan luka.
Inilah yang dimaksud sebagai qawlan sadidan (ucapan yang benar dan lurus), sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam QS Al Ahzab: 70.
4. Manajemen Konflik yang Bijak
Adanya konflik dalam keluarga adalah hal yang wajar karena masing-masing anggota keluarga memiliki latar belakang, karakter dan kebutuhan yang berbeda.
Ketika konflik dikelola dan diselesaikan dengan baik dan bijaksana, maka konflik justru bisa menjadi sarana memperkuat hubungan, melatih kedewasaan emosional dan menumbuhkan sikap saling memahami.
Manajemen konflik keluarga bukan hanya tentang teknik berkomunikasi, tetapi juga meliputi kesabaran, pengendalian diri, keikhlasan untuk memaafkan dan kesediaan untuk musyawarah.
5. Lingkungan Spiritual yang Kuat
Lingkungan Spiritual yang Kuat, rumah yang senantiasa menghidupkan nilai-nilai agama, akan melahirkan suasana penuh ketenangan, kedamaian batin dan kasih sayang.
Ibadah yang dilakukan bersama dan pengajian keluarga, menjadi perekat emosional sekaligus spiritual di antara anggota keluarga. Menjadi latihan disiplin, kebersamaan dan pengingat bahwa keluarga harus senantiasa berada di dalam naungan Allah SWT.
Suasana fisik rumah juga menunjang kekuatan spiritual. Rumah yang rapi, bersih, nyaman, dihiasi kaligrafi ayat-ayat Al Qur'an dan dipenuhi tumbuhan hijau yang menyejukkan mata, mampu menciptakan atmosfer yang segar bagi jiwa.
Ini akan bisa memberi sentuhan psikologis yang menenangkan dan tercipta keharmonisan spiritual dalam keluarga.

